Hari ini aku melihat sebuah video.
Video itu memperlihatkan seorang anak kecil dan ayahnya.
Dia menuliskan sebuah puisi untuk ayahnya.
dan kurang lebih isi dari puisi itu adalah ....
Daddy is the sweetest daddy in the world.
Daddy is the most handsome.
the smartest.
the most clever.
the kindness.
And even buys me ice cream.
He teaches me math.
Daddy wants me to do well at school.
He is my superman!
but....
He lies.
He lies about having a job
He lies about having money
He lies that he's not tired
He lies that he's not hungry
He lies that we have everything
He lies about his happiness
He lies.......
because of me.
I love you daddy.
Kurang lebih seperti itulah puisi yang dituliskan oleh anak tersebut.
Kemudian aku melihat video tersebut.
Satu kali...
Kedua kali..
Ketiga kali..
dan seterusnya.
Ketika aku melihat video tersebut,
mataku selalu berkaca-kaca.
Dan kemudian air mata membasahi wajahku.
Aku teringat pada pahlawanku...
Sosok yang aku panggil, Papa.
Aku teringat...
Setiap kali aku meminta uang untuk membeli sesuatu, atau sekedar berjalan-jalan,
ayahku berkata, 'Nanti ya, papa transfer...'
Aku tidak tahu, bahwa sebenarnya ayahku sedang berusaha untuk mewujudkan keinginanku.
Sekereas-kerasnya ayahku berusaha, untuk kebahagiaanku, kesenanganku.
Aku teringat...
Ketika bertemu dengannya,
aku melihat perbedaan.
Wajahnya yang terlihat lesu, lelah, memikirkan segala sesuatunya.
Namun ayahku masih tersenyum kepadaku,
dan mengatakan, 'Papa baik-baik saja, doakan yang terbaik.'
Aku teringat..
Ketika aku sedikit marah akan uang jajanku,
Ayahku berkata, 'Papa sedang berusaha,'
dan tidak lupa ayahku mengatakannya dengan senyumnya.
Aku teringat...
Ketika aku jatuh sakit, bertengkar, sedih, atau tidak ada seorangpun di dekatku,
ayahku selalu mempunyai perasaan,
bahwa anaknya sedang tidak baik-baik saja.
Dan ayahku selalu datang menghampiriku,
layaknya pahlawan yang tahu bahwa ada manusianya yang bersedih.
Aku sadar,
bahwa saat ini,
di umurku sekarang,
aku sudah harus menjadi dewasa.
Akan tetapi,
aku selalu merindukan pahlawanku.
Aku merindukan ayahku.
He lies, because of me.
He lies, for my happiness.
Dan aku bisa melihat keletihan, usaha, kerja keras, keinginan untuk melihat aku berhasil,
di matanya....
I love you, Daddy :)
Claudia Winandya
About Me
Hello. My name is Claudia Winandya Wahyudi, and my nickname is Ocy. You can call me 'Oci'. I'm a Psychology student in Atma Jaya Catholic University of Indonesia (last semester), and soon to be Psychologist (AMEN).
Popular Posts
-
Selamat malam semuanya. Malam ini di sebuah cafe di bilangan jakarta pusat, gw membawa laptop gw untuk 'nongkrong'. Mengingat m...
-
Aku takut. Ketakutan-ketakutan memenuhi hidupku. Ketakutan akan hal ini, hal itu, jika mereka ini, jika mereka itu, jika aku ini, jika aku...
-
Hii, pertama-tama gw mau perkenalan dulu. Nama gue Claudia Winandya, yaa sering-seringnya dipanggil Oci. Gw juga sebenarnya lupa awalnya gim...
-
Dear blogger, hello again. Jadi gw pengen sedikit cerita tentang beberapa hari yang lalu, dimana akhirnya gw menginjak usia 4 tahun ber...
-
Ingin rasanya aku terbang, menggapai dan menembus awan itu . Ingin rasanya aku terbang, bersama dengan burung-burung yang mengepakkan sa...
-
Entah kapan, aku melihat daun jendela itu. Dua daun jendela yang memiliki warna berbeda. Yang satu berwarna putih, dan lainnya berwarn...
-
Selamat malam semuanya. Pernah dengar tentang Zodiac? Atau ramalan bintang? yang biasanya menghiasi rubrik majalah remaja? Bintang.... ...
-
Hei. Kalian yang di sana. Tidak hanya kamu, tidak hanya dia, tidak hanya mereka, tetapi kalian. Ajari aku untuk menjadi dewasa. Ajar...
-
Ayah.. Aku memanggil sosok beliau dengan panggilan Papa. Panggilan yang selalu aku pakai dari aku mulai berbicara hingga saat ini. Mung...
-
And I choose "Take it"..... Setiap manusia pasti memiliki ketakutan akan beberapa hal, termasuk didalamnya adalah sesuatu yang ...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar